Mahasiswa, Polri, dan Intelektual Bersatu di Rimbang Baling: Nyala Api Kebangsaan Lawan Karhutla dan Narkoba di Riau
- account_circle Redaksi
- calendar_month 4 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar

Dari Rimbang Baling, suara perubahan digaungkan! Mahasiswa, Polri, dan intelektual bersatu lawan karhutla dan narkoba demi masa depan Riau
Kampar, Aspirasi.co.id – Upaya merawat kesadaran kolektif atas ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau kini bergerak ke level yang lebih solid melalui kolaborasi lintas sektor.
Momentum itu tercermin dalam kegiatan Camping Kebangsaan Mahasiswa Riau yang digagas oleh Tumbuh Institute di kawasan Rimbang Baling pada 25–26 April 2026.
Mengusung tema “Bersama Wujudkan Green Policing, Green Generation, dan Cegah Karhutla”, kegiatan ini diikuti sekitar 150 mahasiswa dari BEM dan organisasi Cipayung Plus se-Provinsi Riau.
Head of Tumbuh Foundation, Azairus Adlu, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan ruang refleksi terbuka untuk membedah persoalan mendasar.
“Karhutla bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga menyentuh kesehatan publik, ekonomi, hingga legitimasi tata kelola negara. Karena itu, ruang dialog seperti ini penting untuk membangun kesadaran bersama,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ancaman lain yang tak kalah serius: narkoba. Menurutnya, dua persoalan ini memiliki akar yang serupa.
“Narkoba merusak manusia, karhutla merusak ruang hidup. Keduanya lahir dari keserakahan dan pembiaran. Melawannya berarti menjaga masa depan,” tegasnya.
Azairus menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai motor perubahan—tidak cukup bergerak sesaat, tetapi harus membangun gerakan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Puncak kegiatan berlangsung dalam suasana hangat api unggun kebangsaan yang menghadirkan Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, pengamat politik Rocky Gerung, serta aktivis HAM Hurriah.
Kapolda Riau menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi ancaman karhutla dan narkoba, mengingat Riau memiliki sejarah siklus kebakaran besar seperti pada 1997.
“Masalah ini tidak bisa ditangani satu pihak. Harus ada kerja bersama—dari edukasi di hulu hingga penegakan hukum di hilir,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen tegas dalam pemberantasan narkoba, termasuk sikap tanpa kompromi terhadap oknum aparat yang terlibat.
Sementara itu, Rocky Gerung mengajak peserta melihat karhutla dalam perspektif global sebagai bagian dari krisis ekologis yang lebih luas.
“Kita tidak hanya bicara Riau atau Indonesia, tetapi masa depan bumi. Bumi adalah satu-satunya ‘kapal’ yang kita miliki,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa harus tampil sebagai buffer intelektual dalam menghadapi krisis multidimensi ekonomi, energi, hingga lingkungan.
Pandangan berbeda disampaikan Hurriah yang menempatkan karhutla sebagai isu hak asasi manusia.
“Ini bukan sekadar bencana, tetapi krisis yang diproduksi dan dinormalisasi. Artinya, hak masyarakat atas udara bersih sedang terancam,” tegasnya.
Ia mendorong mahasiswa memperkuat gerakan berbasis riset dan advokasi kebijakan.
“Tanpa data, gerakan mudah dipatahkan. Mahasiswa harus hadir dengan analisis dan rekomendasi konkret,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan tidak hanya berhenti pada diskusi inspiratif.
Peserta juga mengikuti sesi teknis bersama Ditreskrimsus Polda Riau, BPBD, Pemadam Kebakaran, serta Manggala Agni untuk memahami langsung tantangan mitigasi dan penegakan hukum karhutla.
Selain itu, focus group discussion terkait narkoba bersama Ditbinmas dan Ditresnarkoba Polda Riau menjadi ruang interaktif bagi mahasiswa untuk mengurai kompleksitas persoalan sosial dan keamanan di daerah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir kesadaran baru bahwa karhutla bukan sekadar isu musiman, melainkan tanggung jawab kolektif serta terbentuk jejaring mahasiswa yang lebih solid dalam menjaga lingkungan dan masa depan Riau.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar