Buku “Bandawasa Negeri Taman Bumi” Resmi Diluncurkan, Angkat Sejarah Besar Bondowoso
- account_circle ***
- calendar_month Sen, 1 Sep 2025
- visibility 240
- comment 0 komentar

Buku setebal 460 halaman yang terbagi dalam 13 pupuh ini digarap oleh Lutfi Khoiron, dengan penutur utama Sinung Sudrajad.
BONDOWOSO, Aspirasi.co.id – Sebuah karya monumental berjudul Bandawasa Negeri Taman Bumi resmi diperkenalkan melalui soft launching di Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Tegalampel, Minggu (31/8/2024).
Buku setebal 460 halaman yang terbagi dalam 13 pupuh ini digarap oleh Lutfi Khoiron, dengan penutur utama Sinung Sudrajad.
Keduanya menghadirkan rekam jejak Bondowoso sebagai daerah yang memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara.
Dalam pemaparannya, Lutfi menegaskan Bondowoso bukan sekadar kota di tapal kuda, melainkan pusat peradaban yang berulang kali menorehkan sejarah.
“Bondowoso ini riwayatnya seperti papan tulis-ditulis, dihapus, lalu ditulis kembali. Sejak era kapitayan hingga kolonial, selalu menempati posisi sentral,” ujarnya.
Ia menyinggung catatan besar mulai dari letusan Gunung Raung pada 1586, tragedi 11 Maret 1767 yang merenggut sekitar 80 ribu jiwa, hingga kewajiban Bondowoso menyetor 200 ton beras ke VOC pada 1771.
Lutfi juga mengaitkan Bondowoso dengan sejumlah tokoh bersejarah. Sunan Giri dan Arya Wiraraja diyakini berasal dari daerah ini, sementara dawuh Mbah Ronggo Bupati pertama Bondowoso menyebut Patih Gajah Mada pernah “meletakkan paku emas” di tanah Bondowoso.
“Penduduk Bali Age pun diyakini berasal dari Bondowoso. Tuhan memang menciptakan Bondowoso sebagai taman bumi, sama seperti Ijen Purba dan lanskap geologis lainnya,” tegasnya.
Sementara itu, Sinung Sudrajad menekankan arti penting buku ini bagi identitas lokal.
“Seorang dari bangsa Estonia pernah berpesan, untuk menghancurkan bangsa cukup dengan memutus mata rantai generasi dengan leluhurnya. Buku ini hadir untuk menyambung kembali rantai itu,” ucapnya.
Ia mengakui masih ada kekurangan teknis dalam naskah, namun menurutnya hal itu justru menunjukkan otentisitas.
“Karya ini lahir dari proses panjang, bukan hasil instan. Kami juga menghargai kontribusi penulis-penulis Bondowoso sebelumnya,” tambahnya.
Sinung menegaskan bahwa Bondowoso merupakan peradaban pertama di tapal kuda yang juga ditetapkan sebagai pusat kota megalitikum. Tradisi lokal seperti pojien disebut masih menyimpan jejak budaya tersebut.
Lebih jauh, ia menyinggung posisi Bondowoso dalam sejarah panjang negeri.
“Bondowoso pernah menjadi pusat karisidenan Besuki, bahkan tercatat dalam Kakawin Nagarakertagama karya Mpu Prapanca. Dari era klasik, Islam, kolonial, hingga kemerdekaan, Bondowoso selalu hadir dalam arus sejarah,” jelasnya.
Di akhir penyampaiannya, Sinung memberikan penekanan bahwa sejarah terus berulang.
“Dulu Bondowoso dikenal sebagai Taman Jawa. Kini masuk dalam kawasan Geopark Taman Bumi. Itu bukti sejarah tak pernah berhenti berputar,” pungkasnya.
- Penulis: ***


Saat ini belum ada komentar