Di Tengah Ancaman Krisis Global, Bupati Abdul Hamid Wahid Ajak Warga Bondowoso Bersatu Hadapi Tantangan Berat
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jum, 27 Mar 2026
- visibility 63
- comment 0 komentar

Bupati Abdul Hamid Wahid secara terbuka mengingatkan bahwa kondisi ke depan tidak akan mudah.
Bondowoso, Aspirasi.co.id – Di tengah bayang-bayang krisis ekonomi global yang kian nyata, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mulai menyiapkan langkah antisipatif.
Bupati Abdul Hamid Wahid secara terbuka mengingatkan bahwa kondisi ke depan tidak akan mudah, (27/3/2026).
Dalam forum strategis bersama berbagai elemen masyarakat, Bupati menegaskan pentingnya dialog konstruktif dan kebersamaan sebagai kunci menghadapi tekanan global yang berimbas hingga ke daerah.
“Kita harus mulai menata ulang anggaran dengan kata kunci efisiensi. Kondisi global sedang tidak baik-baik saja,” tegasnya.
Ancaman Nyata: Defisit Negara Bisa Tembus Rp300 Triliun
Bupati mengungkapkan, fluktuasi harga minyak dunia yang hampir menyentuh 100 dolar per barel hingga potensi kenaikan ke 158 dolar, serta nilai tukar rupiah yang bisa melemah drastis, berpotensi membuat defisit APBN melonjak hingga Rp300 triliun.
Dampaknya?
Transfer anggaran ke daerah, termasuk Bondowoso, terancam dipangkas besar-besaran.
Efisiensi Jadi Jalan Terjal: Program Terancam Dipangkas
Kebijakan efisiensi mulai terasa.
Bahkan, kemampuan pembangunan infrastruktur jalan di Bondowoso mengalami penurunan signifikan:
Dulu: ±50 km per tahun
Kini: hanya sekitar 25–35 km per tahun
Padahal, kondisi jalan rusak masih mendominasi.
“Dalam kondisi normal saja kita belum mampu menuntaskan, apalagi jika krisis benar-benar terjadi,” ungkapnya.
Dampak Mulai Terasa: LPG Langka hingga Harga Energi Naik
Tak hanya soal anggaran, dampak krisis juga mulai menyentuh kebutuhan dasar masyarakat:
Harga LPG di beberapa daerah tembus Rp40.000
Wacana pengalihan LPG ke listrik mulai dibahas pemerintah
Negara tetangga seperti Singapura sudah mengalami kenaikan BBM hingga 30%
Bondowoso Tidak Sendiri, Tapi Harus Siap Sendiri
Bupati menegaskan bahwa krisis ini bukan hanya persoalan lokal, melainkan nasional bahkan global. Namun kesiapan daerah menjadi penentu utama.
“Kita pernah melewati krisis 1998 dan pandemi Covid-19. InsyaAllah, dengan kebersamaan kita bisa melewati ini,” katanya optimis.
Sekda Fathurrazi: Semua Elemen Harus Turun Tangan
Sementara itu, Sekretaris Daerah Fathurrazi menegaskan bahwa pembangunan Bondowoso tidak bisa dilakukan secara parsial.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu mewujudkan Bondowoso yang:
Berkah
Tangguh
Unggul
Berdaya saing
Berbudaya dalam bingkai keimanan
“Pembangunan harus holistik dan komprehensif. Tujuannya jelas: kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Fakta Bondowoso: Tanpa Laut, Tapi Punya Pasar Ikan Besar
Menariknya, Bondowoso yang 100% daratan justru memiliki pasar ikan besar. Secara geografis:
44,4% wilayah pegunungan & perbukitan
30,7% dataran tinggi
Total luas: 1.554,9 km²
23 kecamatan, 209 desa
PR Besar: Kemiskinan Masih Tinggi, Jalan Banyak Rusak
Beberapa indikator penting:
Kemiskinan: 12,20% (±96 ribu jiwa)
IPM: 71,79 (kategori tinggi, tapi batas bawah)
Jalan rusak masih mendominasi dari total 1.039 km
Desa Mandiri Masih Minim, Tantangan Terbuka Lebar
Dari 209 desa, baru 47 desa mandiri.
Ini menjadi peluang sekaligus tantangan besar bagi pemerintah daerah.
Menuju 2026: Tahun Penentuan di Tengah Ketidakpastian
Dengan ancaman pemotongan anggaran hingga 70% pada transfer ke desa, tahun 2026 diprediksi menjadi tahun penuh ujian.
Namun pemerintah tetap optimis.
“Dengan langkah terpadu dan kebersamaan, Bondowoso akan mampu bertahan bahkan bangkit,” pungkas Bupati.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar