Sedia Payung Sebelum Hujan: Cara Bupati Bondowoso Menatap Dampak Ekonomi Global
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jum, 6 Mar 2026
- visibility 72
- comment 0 komentar

Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid justru mengajak semua pihak untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas
Bondowoso, Aspirasi.co.id – Dalam dinamika pembangunan daerah, kritik dan masukan dari berbagai elemen masyarakat merupakan bagian penting dari proses demokrasi, (5/3/2026).
Namun di tengah kritik yang muncul dari sejumlah mahasiswa terkait kebijakan pembangunan daerah, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid justru mengajak semua pihak untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas: mempersiapkan masa depan sebelum tantangan benar-benar datang.
Menurutnya, kepemimpinan tidak hanya soal menjawab persoalan hari ini, tetapi juga tentang membaca kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Salah satu isu global yang menjadi perhatian adalah potensi dampak penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang sangat berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi global.
Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya bisa merambat luas, mulai dari lonjakan harga energi, inflasi global, hingga perlambatan ekonomi yang juga dapat dirasakan hingga ke daerah-daerah di Indonesia.
Bupati Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa pemerintah daerah harus memiliki pandangan jauh ke depan dalam membaca dinamika tersebut.
Ia mengibaratkan langkah antisipatif sebagai filosofi lama yang sering diucapkan orang bijak: “Sedia payung sebelum hujan.”Filosofi sederhana ini, menurutnya, bukan sekadar ungkapan, tetapi prinsip dalam mengelola pemerintahan.
Ketika berbagai kebijakan disiapkan lebih awal untuk menghadapi kemungkinan terburuk, sebagian orang mungkin menganggapnya berlebihan atau bahkan sekadar wacana.
Namun bagi mereka yang terbiasa berpikir jauh ke depan, langkah itu adalah bentuk kehati-hatian dan tanggung jawab.
“Bagi sebagian orang yang tidak melihat jauh ke depan, mungkin ini hanya dianggap kata-kata kosong. Tapi bagi orang yang memahami dinamika masa depan, ini adalah cara berpikir yang luas,” ungkapnya di sela-sela menanggapi kritik mahasiswa.
Ia menilai bahwa perubahan dunia saat ini berlangsung sangat cepat dan tidak selalu bisa diprediksi.
Konflik geopolitik, perubahan pasar energi, hingga tekanan ekonomi global bisa mempengaruhi stabilitas nasional hingga daerah.
Oleh karena itu, daerah tidak boleh hanya fokus pada program jangka pendek, tetapi juga harus menyiapkan strategi menghadapi ketidakpastian global.
Dalam konteks pembangunan Bondowoso, pemerintah daerah berupaya memperkuat fondasi ekonomi lokal, meningkatkan ketahanan sektor pertanian, serta memperluas peluang investasi dan pengembangan potensi daerah.
Langkah-langkah tersebut diyakini menjadi bagian dari upaya memperkuat daya tahan daerah menghadapi gejolak ekonomi yang bisa datang sewaktu-waktu.
Bupati Abdul Hamid Wahid juga menegaskan bahwa kritik mahasiswa tetap menjadi energi penting bagi pemerintah daerah untuk terus berbenah.
Ia mengapresiasi keberanian generasi muda dalam menyuarakan aspirasi, selama hal itu disampaikan secara konstruktif dan bertujuan untuk kemajuan daerah.
Baginya, pembangunan daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi kerja bersama seluruh elemen masyarakat.
Ketika kritik, gagasan, dan kebijakan dapat berjalan beriringan, maka Bondowoso akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan masa depan.
Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, satu hal yang menjadi pegangan adalah kebijaksanaan lama yang tetap relevan hingga kini: mereka yang mempersiapkan diri lebih awal akan lebih siap menghadapi badai yang datang.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar