Napak Tilas Ki Ronggo, Angka 17 dan Jejak Spiritual di Balik Hari Jadi Bondowoso ke-207
- account_circle Redaksi
- calendar_month 37 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar

Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso Sinung Sudarajat mengatakan, peringatan Hari Jadi Bondowoso ke-207 sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi seluruh elemen masyarakat
BONDOWOSO, ASPIRASI.CO.ID – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bondowoso ke-207 yang bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk kembali membuka lembaran sejarah lahirnya Kabupaten Bondowoso.
Momentum tersebut ditandai dengan kegiatan tasyakuran yang digelar Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudarajat, di Makam Ki Ronggo, Senin (17/8/2026).
Tasyakuran tidak hanya menjadi ajang memperingati hari bersejarah, tetapi juga menjadi ruang untuk menggali kembali kisah perjalanan Ki Ronggo dan filosofi angka 17 yang diyakini memiliki makna tersendiri dalam sejarah Bondowoso.
Dalam kesempatan tersebut, H. Supriadi memaparkan kisah tentang laku tirakat Ki Ronggo sebelum dipercaya menjadi pemimpin wilayah Bondowoso.
Menurut H. Supriadi, sebelum menjalankan tugas sebagai penguasa wilayah, Ki Ronggo menjalani tirakat dan puasa selama 41 hari. Tirakat tersebut dilakukan di sebuah tempat yang dikenal sebagai lokasi pertapaan.
“Waktu itu sebelum diangkat menjadi penguasa wilayah, Ki Ronggo menjalani tirakat. Tidurnya pun tidak menggunakan bantal seperti sekarang, tetapi menggunakan batu,” ungkap H. Supriadi.
Dari perjalanan tirakat tersebut, lanjutnya, muncul keyakinan mengenai petunjuk spiritual yang kemudian dikaitkan dengan angka 17.
Angka tersebut dikaitkan dengan kehidupan umat Islam, mulai dari 17 rakaat salat wajib dalam sehari hingga peristiwa turunnya Al-Qur’an pada 17 Ramadan.
“Angka 17 itu diambil dari ibadahnya orang Islam. Salat sehari semalam 17 rakaat, kemudian Al-Qur’an diturunkan pada 17 Ramadan,” jelasnya.
Menariknya, angka 17 kembali hadir dalam sejarah bangsa Indonesia melalui momentum Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
H. Supriadi menyebut, terdapat rentang waktu sekitar 126 tahun antara tahun 1819 yang dikaitkan dengan sejarah awal Bondowoso dan momentum Kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Menurutnya, kemunculan angka 17 dalam dua momentum sejarah tersebut menjadi bagian dari filosofi yang menarik untuk terus dikaji dan diwariskan kepada generasi muda.
“Jadi setelah 126 tahun kemudian, angka 17 kembali muncul dalam hari kemerdekaan. Ini tentu menjadi bagian dari sejarah yang menarik untuk kita renungkan,” katanya.
Ia juga menyebut sejumlah tokoh nasional pernah datang dan menanyakan mengenai sejarah serta keterkaitan angka 17 dengan perjalanan sejarah Bondowoso.
Baginya, sejarah Ki Ronggo bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan nilai yang mengajarkan tentang perjuangan, tirakat, keteguhan dan pengabdian.
PDIP: Jangan Sekadar Memperingati, Tapi Isi Kemerdekaan
Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso Sinung Sudarajat mengatakan, peringatan Hari Jadi Bondowoso ke-207 sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi seluruh elemen masyarakat.
“Indonesia yang ke-81 sekaligus peringatan Hari Jadi Bondowoso yang ke-207 ini mari kita jadikan sebagai batu lompatan untuk lebih bersinergi memajukan Kabupaten Bondowoso,” ujar Sinung.
Menurutnya, Bondowoso memiliki potensi besar yang selama ini belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, diperlukan sinergi dan komitmen bersama agar berbagai potensi daerah dapat dimaksimalkan untuk kepentingan masyarakat.
Sinung menjelaskan, dipilihnya Makam Ki Ronggo sebagai lokasi tasyakuran juga memiliki alasan kuat.
Tempat tersebut merupakan salah satu titik penting untuk mengingat sejarah dan menghormati para pelaku sejarah Bondowoso.
“Ini adalah bagian dari sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif,” tegasnya.
Ia juga mengutip pesan turun-temurun dari Raden Bagus Sastra Suci Tinoto, ‘Es tuning urip’, yang dimaknai sebagai ajakan untuk berbuat baik selama menjalani kehidupan sebagai bekal menuju kehidupan yang sejati.
Sinung berharap momentum Hari Jadi Bondowoso dan HUT Kemerdekaan RI tidak berhenti pada seremoni tahunan.
Sebaliknya, peringatan tersebut harus menjadi energi baru untuk membangun Bondowoso dengan memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki daerah.
“Bondowoso khususnya bisa lebih bersinergi, lebih maksimal memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.
Sejarah boleh menjadi masa lalu, tetapi nilai perjuangan Ki Ronggo harus tetap menjadi pijakan Bondowoso untuk melangkah ke masa depan.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar