PDIP Bondowoso Gelar Tasyakuran di Makam Kironggo, Kenang Sejarah dan Dorong Sinergi Majukan Bondowoso
- account_circle S/A/lik
- calendar_month 2 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar

BONDOWOSO, ASPIRASI.CO.ID – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Hari Jadi Bondowoso (Harjabo) ke-207 menjadi momentum bagi DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bondowoso untuk kembali merefleksikan sejarah sekaligus meneguhkan komitmen membangun daerah.
Momentum tersebut diwujudkan melalui kegiatan tasyakuran dan doa bersama di kawasan makam Kironggo, Senin (17/8/2026).
Pemilihan lokasi bukan tanpa alasan. Bagi PDIP Bondowoso, tempat tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Kabupaten Bondowoso.
Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudarajat, mengatakan peringatan HUT RI ke-81 dan Harjabo ke-207 harus menjadi batu loncatan untuk memperkuat sinergi seluruh elemen masyarakat dalam memajukan Bondowoso.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai batu lompatan untuk lebih bersinergi memajukan Kabupaten Bondowoso. Kita memiliki banyak potensi, tetapi selama ini belum sepenuhnya linier dengan tingkat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Sinung.
Menurutnya, tasyakuran di makam Kironggo juga menjadi bentuk penghormatan terhadap para pelaku sejarah yang telah meletakkan dasar perjalanan Bondowoso.
Sinung menegaskan, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu meraih kemerdekaan, tetapi juga bangsa yang mampu menghargai jasa para pendahulunya dan mengisi kemerdekaan dengan kerja-kerja positif.
Ia juga mengutip pesan turun-temurun dari Raden Bagus Sastra, yakni “Suci tinoto es tuning urip”, yang dimaknai sebagai ajakan untuk senantiasa berbuat baik dalam kehidupan sebagai bekal menuju kehidupan yang sejati.
“Pesan itu menjadi pengingat bagi kita semua. Bondowoso harus bisa lebih bersinergi dan memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Mengungkap Filosofi Angka 17
Sementara itu, H. Supriadi, salah satu tokoh yang turut memberikan penjelasan mengenai sejarah Kironggo, mengungkap sisi menarik mengenai angka 17 yang memiliki keterkaitan dengan sejarah dan tradisi masyarakat.
Ia menjelaskan, Bondowoso memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Tahun 1819 disebut sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan Bondowoso, sementara Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Menurut Supriadi, angka 17 juga memiliki makna kuat dalam tradisi keislaman. Ia mengaitkannya dengan 17 rakaat salat wajib dalam sehari serta 17 Ramadan, yang dikenal luas sebagai momentum turunnya Al-Qur’an dalam tradisi masyarakat Islam.
“Angka 17 ini bukan sesuatu yang muncul sekarang. Sejak dahulu sudah ada maknanya. Orang-orang dulu ketika hendak menjalankan ibadah, mencari pekerjaan, bahkan melakukan sesuatu yang dianggap penting, melakukan tirakat dan puasa,” ungkapnya.
Supriadi juga menceritakan kisah tirakat Raden Bagus Sastra, yang disebut menjalani puasa selama 41 hari di sebuah tempat yang kini menjadi bagian dari kawasan bersejarah tersebut.
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, setelah menjalani tirakat, Raden Bagus Sastra mendapatkan petunjuk untuk melanjutkan perjuangannya.
Tradisi tirakat tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita sejarah dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Supriadi menyebut, kawasan makam Kironggo juga pernah menjadi tempat yang menarik perhatian sejumlah kalangan, termasuk para mahasiswa dan tokoh yang ingin menggali sejarah Bondowoso.
“Saya tekankan kepada siapa saja yang datang ke sini, termasuk mahasiswa, jangan hanya melihat tempat ini sebagai makam. Di sini ada sejarah, ada cerita perjuangan dan nilai yang bisa kita pelajari,” katanya.
Sejarah Jangan Sekadar Jadi Cerita
Momentum tasyakuran tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial. PDIP Bondowoso ingin peringatan HUT RI dan Harjabo menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak boleh tercerabut dari sejarah.
Kemerdekaan, menurut mereka, harus diisi dengan kerja nyata, menjaga persatuan, memperkuat sinergi serta mengoptimalkan potensi daerah.
Dari makam para leluhur, pesan sejarah kembali digaungkan: Bondowoso tidak cukup hanya mengenang masa lalu, tetapi harus berani melompat menuju masa depan dengan semangat gotong royong dan kesejahteraan rakyat.
- Penulis: S/A/lik


Saat ini belum ada komentar