Tak Cukup Sarungan dan Pengajian! Ulifiyah Desak PPP Rangkul Gen Z
- account_circle S/A/lik
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar

Pesan tegas itu disampaikan Wakil Bupati Situbondo, Ulifiyah, S.Pd.I., saat menghadiri kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,
BONDOWOSO, Aspirasi.co.id – Penyerahan Surat Keputusan (SK) kepengurusan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bondowoso menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kekuatan partai berlambang Ka’bah.
Bukan sekadar merampungkan struktur organisasi, PPP ditantang menyatukan kembali kader, memperkuat basis pesantren, hingga merebut hati generasi muda, (20/10/2026).
Pesan tegas itu disampaikan Wakil Bupati Situbondo, Ulifiyah, S.Pd.I., saat menghadiri kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Santri Nasional, sekaligus penyerahan SK kepengurusan PPP Bondowoso. Ia hadir mewakili pengurus DPW PPP Jawa Timur atas mandat ketua DPW.
Dalam sambutannya, Ulifiyah menyampaikan apresiasi kepada jajaran PPP Bondowoso yang telah menyelesaikan tahapan pembentukan kepengurusan hingga penyerahan SK.
Namun, menurutnya, pekerjaan besar sesungguhnya baru dimulai. Setelah struktur kepengurusan terbentuk, seluruh kader harus kembali merapatkan barisan dan menyatukan kekuatan yang sempat terpecah.
“Yang utama adalah bagaimana kita kembali merangkul, menyatukan serpihan-serpihan yang mungkin kemarin sempat bercerai-berai. Sekarang saatnya kita kompak kembali,” tegasnya.
Bukan Sekadar Menata Pengurus, PPP Bidik Kembali Kursi Kekuasaan
Ulifiyah menegaskan, konsolidasi internal menjadi fondasi penting bagi PPP untuk memperbesar peluang kembali meraih kursi politik dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Ia menyebut, harapan agar PPP kembali memperoleh kepercayaan rakyat, termasuk kembali ke Pendopo Bondowoso, harus diiringi ikhtiar nyata seluruh elemen partai.
Mulai dari pengurus, para masyayikh, tokoh masyarakat, hingga para pencinta PPP perlu bergerak dalam satu barisan. Doa dan harapan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan kerja organisasi yang terukur.
“Yang paling dasar kita lakukan adalah berdoa kepada Allah SWT. Tetapi, kita juga harus memperbaiki dan melengkapi kepengurusan dari tingkat PAC, ranting, hingga anak ranting,” ujarnya.
Baginya, kekuatan partai tidak cukup dibangun melalui kepengurusan di tingkat kabupaten. Mesin organisasi hingga akar rumput harus benar-benar hidup agar PPP memiliki kedekatan yang kuat dengan masyarakat.
Pesantren Jadi Akar, Tokoh Masyarakat Jadi Penguat
Sebagai partai yang berlandaskan nilai-nilai Islam, Ulifiyah mengingatkan agar PPP tidak kehilangan jati dirinya. Kedekatan dengan pondok pesantren, para kiai, dan tokoh masyarakat harus kembali diperkuat.
Menurutnya, pesantren memiliki posisi strategis dalam perjalanan PPP. Karena itu, membangun komunikasi dan kolaborasi dengan kalangan pesantren menjadi salah satu langkah penting untuk mengokohkan kembali basis dukungan partai.
Ia berharap konsolidasi yang dilakukan PPP Bondowoso tidak berhenti pada urusan administratif, tetapi mampu membangun kembali kepercayaan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Jangan Hanya Identik dengan Sarung dan Pengajian, Gen Z Juga Harus Dilirik!
Tak hanya menyoroti konsolidasi dan basis pesantren, Ulifiyah juga mengingatkan pentingnya merangkul generasi Z atau Gen Z.
Di tengah perkembangan teknologi dan dominasi media sosial dalam kehidupan anak muda, PPP dinilai perlu beradaptasi agar tetap relevan di mata generasi penerus.
Menurutnya, partai tidak boleh hanya dikenal melalui kegiatan keagamaan, sarung, dan pengajian. PPP juga harus mampu menghadirkan program-program yang menyentuh kebutuhan anak muda, mulai dari kepemudaan hingga berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
“Bagaimana kita menyentuh adik-adik kita, Gen Z, sehingga mereka cinta kepada PPP. Kita tidak hanya menjadi partai yang kelihatannya sarungan dan pengajian, tetapi juga mengakomodasi program-program yang berkaitan dengan kepemudaan dan hal-hal lainnya,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa regenerasi politik bukan sekadar menghadirkan anak muda dalam kegiatan partai. Lebih dari itu, PPP harus memberi ruang, mendengar aspirasi, serta menghadirkan program yang benar-benar dibutuhkan generasi muda.
Bagi Ulifiyah, tantangan PPP Bondowoso ke depan bukan hanya menyelesaikan kepengurusan, melainkan membangun kekompakan, merawat akar perjuangan Islam, dan memperluas jangkauan dukungan hingga kalangan muda.
Konsolidasi harus bergerak, pesantren tetap dirangkul, dan Gen Z tak boleh ditinggalkan. Sebab, untuk kembali merebut kepercayaan rakyat, PPP membutuhkan persatuan sekaligus kemampuan menjawab perubahan zaman.
- Penulis: S/A/lik


Saat ini belum ada komentar