Bondowoso Perkuat Swasembada Pangan, Pertanian Organik Berbasis Sains Dongkrak Produktivitas hingga 6,5 Ton per Hektare
- account_circle S/A/lik
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 28
- comment 0 komentar

Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid mengatakan daerahnya memiliki potensi besar sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur
Bondowoso, Aspirasi.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso memperkuat pengembangan pertanian organik berbasis inovasi dan teknologi sebagai strategi mendukung swasembada pangan nasional.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam peluncuran metode Pertanian Modern Adaptif Berbasis Sains (PMAAS) di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, (20/6/2026).
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid mengatakan daerahnya memiliki potensi besar sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur. Luas lahan pertanian di Bondowoso mencapai sekitar 35.093 hektare, sementara kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) mencapai 45 ribu hektare.
“Produksi padi Bondowoso pada 2025 mencapai sekitar 600 ribu ton. Capaian ini merupakan hasil kerja keras petani, penyuluh pertanian, serta dukungan pemerintah daerah dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian,” kata Abdul Hamid dalam sambutannya.
Menurut dia, pemerintah daerah terus mengembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan. Saat ini, lahan pertanian organik telah mencapai sekitar 230 hektare yang tersebar di Desa Solor, Lombok Kulon, dan Gadingsari.
Selain itu, Bondowoso juga memiliki komoditas unggulan berupa Beras Sintanur Lembah Raung yang telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis pada 2025. Pengakuan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memperluas pemasaran beras Bondowoso ke pasar nasional maupun internasional.
Abdul Hamid menambahkan, petani Bondowoso siap mengadopsi metode PMAAS yang dipadukan dengan sistem tanam benih langsung (Tabela). Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menekan biaya produksi.
“Pemerintah daerah berharap mendapat dukungan pemerintah pusat dalam penyediaan sarana produksi, pembangunan rumah pengolahan hasil pertanian, hingga fasilitas pascapanen agar pertanian Bondowoso semakin maju dan berdaya saing,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, mengatakan pendampingan UMM terhadap petani di Desa Lombok Kulon telah berlangsung sejak 2013. Selama lebih dari satu dekade, UMM membangun ekosistem pertanian organik yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan riset, tetapi juga harus memastikan hasil penelitian memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami ingin ilmu pengetahuan hadir di tengah masyarakat. Anak-anak muda harus kembali melihat sektor pertanian sebagai profesi yang modern, produktif, dan mampu memberikan kesejahteraan,” katanya.
Ia menilai Bondowoso memiliki modal besar untuk mencetak generasi petani muda karena didukung banyak lembaga pendidikan dan pondok pesantren yang dapat menjadi bagian dari pembangunan pertanian berbasis pengetahuan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Prof. Dr. Eng. Yudi Dharma, S.Si., M.Si., menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat di Bondowoso menjadi contoh nyata hilirisasi riset yang berhasil diterapkan di sektor pertanian.
“Kehadiran kami bukan sekadar menghadiri seremoni tanam perdana. Yang dilakukan Bondowoso hari ini merupakan jawaban konkret terhadap tantangan kedaulatan pangan nasional,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, hasil pertanian organik Bondowoso kini telah dipasarkan hingga Papua dan Kalimantan, menunjukkan produk pertanian daerah mampu bersaing di pasar nasional.
Yudi menjelaskan, produktivitas padi nasional rata-rata masih berada di kisaran 5,2 ton per hektare. Sementara itu, lahan pertanian organik di Desa Lombok Kulon mampu menghasilkan hingga 6,5 ton per hektare, atau meningkat sekitar 1–2 ton per hektare dibandingkan rata-rata nasional.
“Peningkatan ini menunjukkan bahwa penerapan sains dan teknologi secara tepat mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ekonomi petani,” katanya.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan kelompok tani tersebut diharapkan menjadi model pengembangan pertanian modern berbasis inovasi yang dapat direplikasi di berbagai daerah dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
- Penulis: S/A/lik


Saat ini belum ada komentar