AKP Nisin Terobos Medan Terjal, Pimpin Langsung Pemadaman Karhutla di Pegunungan Sempol
- account_circle Malik
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar

Kapolsek Sempol AKP Nisin, S.H. turun langsung ke garis depan. Bersama anggota
BONDOWOSO, ASPIRASI.CO.ID – Kepulan asap dan kobaran api yang melahap lahan kering di kawasan perkebunan PTPN 1 Regional 5 Kebun Belawan, Kecamatan Sempol, Bondowoso, Kamis (27/8/2026), tak dibiarkan meluas.
Kapolsek Sempol AKP Nisin, S.H. turun langsung ke garis depan. Bersama anggota, Muspika, petugas perkebunan dan warga, ia berjibaku menjinakkan api di tengah medan perbukitan berbatu yang sulit dijangkau.
Dengan hamparan ilalang, serasah dan ranting kering yang mudah tersulut, api berpotensi menjalar semakin luas. Namun, kondisi ekstrem itu tak menyurutkan langkah AKP Nisin untuk tetap berada di lokasi dan memimpin langsung upaya pemadaman.
Respons cepat dilakukan setelah Polsek Sempol menerima laporan masyarakat sekitar pukul 14.00 WIB. AKP Nisin langsung mengoordinasikan kekuatan lintas sektor, mengerahkan personel, membantu pemadaman sekaligus memastikan penyelidikan terhadap sumber api berjalan.
Kebakaran terjadi di Afdeling Krepekan, Blok S TBM 1 dan Blok ST 12, Dusun Krepekan, Desa Jampit, Kecamatan Sempol. Diperkirakan sekitar 9 hektare lahan terdampak.
Areal yang terbakar merupakan kawasan rejingan atau lahan bebatuan dengan vegetasi berupa rumput, ilalang, serasah dan ranting kering. Kemarau panjang ditambah tiupan angin di kawasan perbukitan membuat api cepat membesar dan sulit dikendalikan.
Lawan Api dengan Peralatan Seadanya
Di tengah keterbatasan sarana pemadam dan medan yang berat, petugas tak menyerah. Air didatangkan menggunakan kendaraan perkebunan, sementara gebyok dan peralatan sederhana digunakan untuk memukul serta memutus laju api.
AKP Nisin bersama anggota Polsek Sempol, personel Subramil Sempol, keamanan PTPN 1 Regional 5 dan masyarakat terus bergerak dari satu titik api ke titik lainnya.
Medan berbatu dan sulitnya akses menjadi tantangan tersendiri. Namun, Kapolsek memilih tetap bertahan di lokasi bersama personelnya hingga api benar-benar dapat dikendalikan.
Dari Laporan Warga, Langsung Turun ke Lokasi
Begitu informasi kebakaran diterima dari masyarakat, AKP Nisin langsung bergerak.
Koordinasi dengan Muspika dilakukan untuk memperkuat penanganan. Personel Polsek Sempol dikerahkan menuju lokasi, membantu pemadaman sekaligus mengumpulkan keterangan terkait kemungkinan sumber api.
Dari penelusuran awal, kebakaran diduga berkaitan dengan rentetan kebakaran yang sebelumnya terjadi di kawasan Kawah Wurung. Namun, dugaan tersebut masih didalami dan penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan.
Beruntung, lokasi kebakaran cukup jauh dari permukiman sehingga ancaman terhadap rumah warga dapat diminimalkan. Tidak ada korban jiwa maupun kerugian materiil yang dilaporkan.
Meski kobaran api di sejumlah titik mulai mengecil, petugas belum meninggalkan lokasi. AKP Nisin bersama personel dan mandor perkebunan terus memantau titik-titik rawan yang masih menyisakan bara.
Pemantauan dilakukan untuk mencegah api kembali membesar akibat kondisi lahan yang sangat kering dan tiupan angin yang cukup kencang.
Tak Sekadar Memberi Komando, AKP Nisin Turun ke Garis Depan
Aksi AKP Nisin dalam penanganan karhutla memperlihatkan kepemimpinan yang tak berhenti di balik meja.
Ia tidak hanya memberi instruksi, tetapi memilih turun langsung, berada di tengah anggota dan masyarakat saat situasi membutuhkan penanganan cepat.
Di wilayah Sempol, AKP Nisin dikenal sebagai sosok humanis yang dekat dengan masyarakat dan aktif membangun komunikasi dengan berbagai unsur.
Kedekatan tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat kolaborasi antara kepolisian, TNI, pemerintah kecamatan, pengelola perkebunan dan masyarakat.
Kolaborasi itulah yang menjadi kunci dalam menghadapi persoalan kewilayahan, terutama ketika situasi darurat menuntut semua pihak bergerak cepat.
AKP Nisin juga tercatat sebagai satu-satunya Kapolsek yang memiliki sertifikasi Kapolsek, sebagai bagian dari kompetensi dalam menjalankan kepemimpinan dan tugas pelayanan kepolisian di tingkat kewilayahan.
Jangan Anggap Sepele Bara Kecil
Kebakaran hutan dan lahan bukan persoalan sepele.
Selain menghanguskan vegetasi, karhutla berpotensi merusak ekosistem, menurunkan kualitas udara, mengganggu kawasan perkebunan hingga mengancam keselamatan masyarakat jika api merembet ke permukiman.
Risiko itu semakin besar saat kemarau panjang. Rumput, ilalang, serasah dan ranting kering berubah menjadi bahan bakar yang membuat api mudah menyebar.
Karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci. Pemerintah, TNI, Polri, pengelola perkebunan dan masyarakat harus bergerak bersama agar api tidak berkembang menjadi bencana besar.
Kapolsek: Jangan Biarkan Bara Kecil Jadi Bencana Besar
AKP Nisin menegaskan, kehadiran petugas sejak awal kejadian merupakan bentuk tanggung jawab kepolisian dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat sekaligus menjaga lingkungan.
“Begitu menerima laporan dari masyarakat, kami langsung bergerak ke lokasi. Kami berkoordinasi dengan Muspika, mengerahkan personel dan bersama pihak perkebunan serta masyarakat melakukan pemadaman. Di saat yang sama, kami melakukan penyelidikan untuk mengetahui sumber dan penyebab kebakaran,” ujar AKP Nisin.
Menurutnya, kondisi lahan yang mengering akibat kemarau panjang membuat api sangat mudah menjalar. Karena itu, meski kobaran mulai mengecil, pemantauan tidak boleh dihentikan selama masih terdapat bara dan titik api.
“Kami tidak ingin menganggap kecil kebakaran yang masih menyisakan bara. Jangan sampai bara kecil berubah menjadi bencana besar. Selama masih ada titik api, personel akan terus melakukan pemantauan dan penanganan,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan dengan vegetasi yang mengering.
Hingga Kamis malam, pemantauan di lokasi masih terus dilakukan. Aksi AKP Nisin bersama jajaran Polsek Sempol menjadi bukti bahwa pelayanan kepolisian tidak berhenti pada laporan dan koordinasi.
Ketika api mengancam, mereka turun langsung ke medan. Ketika masyarakat membutuhkan, mereka berada di garis depan.
- Penulis: Malik


Saat ini belum ada komentar