Bimbingan Teknis KLA, Bondowoso Bidik Naik Peringkat Meski Kasus Kekerasan Anak Jadi Tantangan
- account_circle Redaksi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar

Pemkab Bondowoso menargetkan mampu mempertahankan predikat KLA kategori Nindya, bahkan naik ke tingkat yang lebih tinggi melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dan perlindungan terhadap anak
Bondowoso, Aspirasi.co.id – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus mematangkan persiapan menghadapi Peninjauan Ulang Verifikasi Administrasi (PUVA) Kabupaten Layak Anak (KLA).
Melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB), seluruh pemangku kepentingan diminta memperkuat kolaborasi demi mempertahankan bahkan meningkatkan predikat KLA yang telah diraih.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinsos P3AKB Bondowoso, HF Laily, mengatakan saat ini Bondowoso berada pada kategori Nindya.
Pemkab menargetkan hasil yang lebih baik dengan memenuhi seluruh indikator yang menjadi penilaian Kementerian, (8/8/2026).
“Kami mengikuti mekanisme yang sudah ditetapkan kementerian. Apa saja poin yang harus dipenuhi akan kami upayakan semaksimal mungkin. Namun kami tidak bisa bekerja sendiri, perlu dukungan seluruh stakeholder, termasuk teman-teman media yang juga menjadi bagian dari Gugus Tugas KLA,” ujarnya.
Laily mengungkapkan, berdasarkan hasil evaluasi mandiri, Bondowoso berhasil meraih nilai 984 dari total maksimal 1.000 poin. Capaian tersebut menjadi modal kuat untuk mempertahankan status KLA, bahkan membuka peluang naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Meski demikian, ia mengakui masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama tingginya angka kasus kekerasan terhadap anak.
Menurutnya, sebagian besar kasus dipicu oleh lemahnya ketahanan keluarga dan persoalan ekonomi. Banyak korban berasal dari keluarga yang tidak utuh, seperti anak yang ditinggal bekerja orang tuanya sehingga diasuh oleh kakek, nenek, atau kerabat lain.
“Faktor ekonomi dan ketahanan keluarga menjadi penyebab utama. Selain itu, dampak negatif digitalisasi dan media sosial juga mulai berpengaruh terhadap meningkatnya kasus kekerasan maupun persoalan yang menimpa anak,” jelasnya.
Ia menambahkan, derasnya arus informasi di media sosial membuat tantangan perlindungan anak semakin kompleks sehingga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Dalam upaya pencegahan, Dinsos P3AKB terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Polres Bondowoso dan organisasi masyarakat.
Namun keterbatasan anggaran membuat pola sosialisasi kini lebih mengandalkan jaringan relawan dan organisasi hingga tingkat desa.
“Kami tetap melakukan edukasi melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Bersama Fatayat, Rumah Perlindungan, dan jaringan pendamping di tingkat RT maupun desa, sosialisasi terus dilakukan melalui pengajian dan kegiatan masyarakat agar pesan perlindungan anak bisa menjangkau masyarakat secara langsung,” pungkasnya.
Melalui penguatan sinergi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bondowoso berharap mampu menciptakan lingkungan yang semakin aman, ramah, dan berpihak pada tumbuh kembang anak, sekaligus meningkatkan capaian Kabupaten Layak Anak pada penilaian tahun ini.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar